Daftar Isi

6 Rekomendasi Wisata Sejarah & Religi Cirebon

Penulis: Fitria Yundiana
6 Rekomendasi Wisata Sejarah & Religi Cirebon

Cirebon adalah salah satu kota tertua di Indonesia yang menyimpan kekayaan sejarah dan budaya luar biasa. Letaknya di pesisir utara Jawa Barat menjadikan kota ini sebagai titik pertemuan berbagai pengaruh — Jawa, Sunda, Islam, hingga Tionghoa — yang hingga kini masih terasa dalam setiap sudut kotanya.

Dari keraton megah peninggalan Kesultanan Cirebon hingga makam para wali dan tempat ibadah lintas agama, berikut adalah destinasi wisata sejarah dan religi yang wajib masuk itinerary kamu saat mengunjungi Cirebon!

1. Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan adalah ikon utama wisata sejarah Cirebon. Dibangun pada tahun 1447 oleh Pangeran Cakrabuana (Raden Walangsungsang), keraton ini dulunya menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon dan hingga kini masih aktif sebagai pusat pelestarian budaya.

Arsitekturnya merupakan perpaduan unik antara gaya Jawa, Sunda, dan Eropa yang mencerminkan ragam pengaruh budaya yang pernah singgah di Cirebon. 

Di dalam kompleks terdapat museum yang menyimpan artefak bersejarah mulai dari senjata tradisional, lukisan, hingga peralatan kerajaan. Koleksi paling ikonik adalah Kereta Singa Barong, kereta kencana yang digunakan Sultan dalam berbagai upacara adat.

  • Lokasi: Jl. Kasepuhan No.43, Kasepuhan, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon

  • Jarak dari Alun-Alun Cirebon: ±3,1 km (sekitar 8 menit)

  • Tiket masuk: Rp15.000-Rp25.000 per orang

2. Keraton Kanoman

Tidak jauh dari Kasepuhan, Keraton Kanoman berdiri sebagai bagian penting lain dari sejarah panjang Kesultanan Cirebon. Didirikan pada abad ke-17 oleh Sultan Anom I, keraton ini berfungsi sebagai pusat kebudayaan dan pemerintahan.

Meski lebih kecil dari Kasepuhan, koleksi di sini tidak kalah menarik, termasuk Kereta Paksi Naga Liman yang menjadi simbol kebesaran keraton. 

Keraton Kanoman juga rutin menggelar upacara adat, termasuk Grebeg Syawal setiap tahun setelah Idul Fitri yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

  • Lokasi: Di belakang Pasar Kanoman, arah tenggara dari Alun-Alun Kejaksaan Kota Cirebon

  • Tiket masuk: Rp10.000

3. Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Dibangun pada abad ke-15 oleh Sunan Gunung Jati, Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah salah satu masjid tertua di Cirebon dan menjadi simbol penting perkembangan Islam di wilayah ini.

Arsitekturnya memperlihatkan akulturasi budaya Jawa, Sunda, dan Islam secara harmonis yang terlihat dari tiang-tiang kayu jati berukir dan mimbar dengan ukiran khas Cirebon. 

Salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan adalah adzan Jumat yang dikumandangkan oleh tujuh muazin secara bersamaan, melambangkan persatuan umat Islam.

  • Lokasi: Jl. Kasepuhan No.Komplek, Kesepuhan, Kec. Lemahwungkuk

4. Makam Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) adalah salah satu Wali Songo dan pendiri Kesultanan Cirebon. Makamnya di Astana Gunung Jati menjadi salah satu destinasi wisata religi paling banyak dikunjungi di Jawa Barat.

Kompleks makam ini terletak di puncak bukit sekitar 5 km dari pusat kota, dikelilingi makam keluarga dan kerabat sultan. 

Setiap tahun, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang untuk menghadiri Haul Sunan Gunung Jati, menjadikan tempat ini bukan sekadar situs ziarah tapi juga pusat spiritualitas yang hidup.

  • Lokasi: Astana Gunung Jati, ±5 km dari pusat kota Cirebon

5. Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi atau Taman Sari Gua Sunyaragi adalah situs sejarah yang paling unik di Cirebon. 

Dibangun pada abad ke-17 oleh Pangeran Kararangen, tempat ini awalnya difungsikan sebagai tempat meditasi para sultan dan keluarga kerajaan, sekaligus benteng pertahanan.

Arsitekturnya berbeda dari bangunan keraton pada umumnya. Gua ini tersusun dari batu karang dan bata yang membentuk gua-gua buatan dengan berbagai ruangan. 

Salah satu yang paling dikenal adalah Bale Kambang, ruang meditasi yang dikelilingi kolam air. 

  • Lokasi: Jl. Sunyaragi No.5, Sunyaragi, Kec. Kesambi

  • Tiket masuk: Rp10.000-Rp15.000

6. Vihara Dewi Welas Asih

Cirebon juga dikenal sebagai kota dengan toleransi beragama yang kuat. 

Salah satu simbol nyatanya adalah Vihara Dewi Welas Asih, tempat ibadah umat Buddha yang berdiri sejak 1878 di pusat kot yang memiliki arsitektur perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa.

Vihara ini paling ramai dikunjungi saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh, tapi juga aktif sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya komunitas Tionghoa Cirebon sepanjang tahun. 

Bagi wisatawan, vihara ini menawarkan perspektif berbeda tentang keberagaman budaya yang menjadi identitas Cirebon.

  • Lokasi: Jl. Kantor, Panjunan, Lemahwungkuk

Dari keraton hingga vihara, Cirebon menawarkan pengalaman wisata yang jarang bisa ditemukan di kota lain — di mana sejarah kerajaan, tradisi Islam, dan keberagaman budaya hidup berdampingan dalam satu kota.

Pergi ke Cirebon Naik ZTrans

Semua destinasi di atas bisa kamu jangkau dalam satu hari kunjungan, asalkan kamu sampai Cirebon pagi. ZTrans melayani beberapa rute menuju dan dari Cirebon dengan jadwal pagi yang bisa kamu pilih sesuai kota keberangkatan:

Pesan tiket langsung lewat website atau aplikasi ZTrans.


Cirebon adalah salah satu kota tertua di Indonesia yang menyimpan kekayaan sejarah dan budaya luar biasa. Letaknya di pesisir utara Jawa Barat menjadikan kota ini sebagai titik pertemuan berbagai pengaruh — Jawa, Sunda, Islam, hingga Tionghoa — yang hingga kini masih terasa dalam setiap sudut kotanya.

Dari keraton megah peninggalan Kesultanan Cirebon hingga makam para wali dan tempat ibadah lintas agama, berikut adalah destinasi wisata sejarah dan religi yang wajib masuk itinerary kamu saat mengunjungi Cirebon!

1. Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan adalah ikon utama wisata sejarah Cirebon. Dibangun pada tahun 1447 oleh Pangeran Cakrabuana (Raden Walangsungsang), keraton ini dulunya menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Cirebon dan hingga kini masih aktif sebagai pusat pelestarian budaya.

Arsitekturnya merupakan perpaduan unik antara gaya Jawa, Sunda, dan Eropa yang mencerminkan ragam pengaruh budaya yang pernah singgah di Cirebon. 

Di dalam kompleks terdapat museum yang menyimpan artefak bersejarah mulai dari senjata tradisional, lukisan, hingga peralatan kerajaan. Koleksi paling ikonik adalah Kereta Singa Barong, kereta kencana yang digunakan Sultan dalam berbagai upacara adat.

  • Lokasi: Jl. Kasepuhan No.43, Kasepuhan, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon

  • Jarak dari Alun-Alun Cirebon: ±3,1 km (sekitar 8 menit)

  • Tiket masuk: Rp15.000-Rp25.000 per orang

2. Keraton Kanoman

Tidak jauh dari Kasepuhan, Keraton Kanoman berdiri sebagai bagian penting lain dari sejarah panjang Kesultanan Cirebon. Didirikan pada abad ke-17 oleh Sultan Anom I, keraton ini berfungsi sebagai pusat kebudayaan dan pemerintahan.

Meski lebih kecil dari Kasepuhan, koleksi di sini tidak kalah menarik, termasuk Kereta Paksi Naga Liman yang menjadi simbol kebesaran keraton. 

Keraton Kanoman juga rutin menggelar upacara adat, termasuk Grebeg Syawal setiap tahun setelah Idul Fitri yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

  • Lokasi: Di belakang Pasar Kanoman, arah tenggara dari Alun-Alun Kejaksaan Kota Cirebon

  • Tiket masuk: Rp10.000

3. Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Dibangun pada abad ke-15 oleh Sunan Gunung Jati, Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah salah satu masjid tertua di Cirebon dan menjadi simbol penting perkembangan Islam di wilayah ini.

Arsitekturnya memperlihatkan akulturasi budaya Jawa, Sunda, dan Islam secara harmonis yang terlihat dari tiang-tiang kayu jati berukir dan mimbar dengan ukiran khas Cirebon. 

Salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan adalah adzan Jumat yang dikumandangkan oleh tujuh muazin secara bersamaan, melambangkan persatuan umat Islam.

  • Lokasi: Jl. Kasepuhan No.Komplek, Kesepuhan, Kec. Lemahwungkuk

4. Makam Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) adalah salah satu Wali Songo dan pendiri Kesultanan Cirebon. Makamnya di Astana Gunung Jati menjadi salah satu destinasi wisata religi paling banyak dikunjungi di Jawa Barat.

Kompleks makam ini terletak di puncak bukit sekitar 5 km dari pusat kota, dikelilingi makam keluarga dan kerabat sultan. 

Setiap tahun, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang untuk menghadiri Haul Sunan Gunung Jati, menjadikan tempat ini bukan sekadar situs ziarah tapi juga pusat spiritualitas yang hidup.

  • Lokasi: Astana Gunung Jati, ±5 km dari pusat kota Cirebon

5. Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi atau Taman Sari Gua Sunyaragi adalah situs sejarah yang paling unik di Cirebon. 

Dibangun pada abad ke-17 oleh Pangeran Kararangen, tempat ini awalnya difungsikan sebagai tempat meditasi para sultan dan keluarga kerajaan, sekaligus benteng pertahanan.

Arsitekturnya berbeda dari bangunan keraton pada umumnya. Gua ini tersusun dari batu karang dan bata yang membentuk gua-gua buatan dengan berbagai ruangan. 

Salah satu yang paling dikenal adalah Bale Kambang, ruang meditasi yang dikelilingi kolam air. 

  • Lokasi: Jl. Sunyaragi No.5, Sunyaragi, Kec. Kesambi

  • Tiket masuk: Rp10.000-Rp15.000

6. Vihara Dewi Welas Asih

Cirebon juga dikenal sebagai kota dengan toleransi beragama yang kuat. 

Salah satu simbol nyatanya adalah Vihara Dewi Welas Asih, tempat ibadah umat Buddha yang berdiri sejak 1878 di pusat kot yang memiliki arsitektur perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa.

Vihara ini paling ramai dikunjungi saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh, tapi juga aktif sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya komunitas Tionghoa Cirebon sepanjang tahun. 

Bagi wisatawan, vihara ini menawarkan perspektif berbeda tentang keberagaman budaya yang menjadi identitas Cirebon.

  • Lokasi: Jl. Kantor, Panjunan, Lemahwungkuk

Dari keraton hingga vihara, Cirebon menawarkan pengalaman wisata yang jarang bisa ditemukan di kota lain — di mana sejarah kerajaan, tradisi Islam, dan keberagaman budaya hidup berdampingan dalam satu kota.

Pergi ke Cirebon Naik ZTrans

Semua destinasi di atas bisa kamu jangkau dalam satu hari kunjungan, asalkan kamu sampai Cirebon pagi. ZTrans melayani beberapa rute menuju dan dari Cirebon dengan jadwal pagi yang bisa kamu pilih sesuai kota keberangkatan:

Pesan tiket langsung lewat website atau aplikasi ZTrans.